Semua
Adalah Teman
Sri seorang siswi yang baru saja pindah dari kota Bandung ke
kota Magelang. Ya memang seorang yang baru saja pindah sekolah apalagi berbeda
kota pasti butuh penyesuaian dengan lungkungannya cukup lama.
Suatu hari saat Sri berjalan dengan tergesa gesa di
koridor sekolahnya yang baru. Ia menabrak dua orang siswi lain yang belum dia
kenal. Sontak salah satu dari mereka langsung mengucap beberapa kata kasar
kepadanya. Sri pun langsung meminta maaf kepadanya namun siswi tersebut hanya
menyuruhnya untuk pergi. Tak disangka dua orang siswa dan siswi melihat
kejadian itu namun mereka juga tidak menghampiri Sri saat kejadian itu terjadi.
Haripun berganti Sri mulai mengikuti pelajaran di
kelasnya. Tak disangka ternyata dua orang siswa dan siswi itu sekelas dengan
Sri. Mereka pun menghampiri Sri. Seorang dari mereka memperkenalkan diri “Namaku
Rahmat,dan dia Siti. siapa namamu?”. Sri pun menjawab. Namaku. Mulai saat itu
mereka manjadi teman dekat. Sri pun bertanya siapa yang saat pertama ia di
skolah dan ia tabrak. Rahmat pun menjawab bahwa yang di tabarak Sri itu adalah Risa
dan Saras.
Mereka berdua selalu bersama , Risa adalah seorang
mudah emosi. Sebaliknya Saras adalah orang yang jarang bicara, namun ada yang
berbeda darinya sebagian orang percaya
jika Ia bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat, seperti jin dan sebangsanya. Sore itu sepulang
sekolah Sri bertemu dengan Saras di depan kelasnya Saraspun hanya memandangi
Sri dengan tatapan tajam. Sri tidak berani membalas tatapan itu ia hanya bisa
diam dan pergi begitu saja.
Sore itu juga Risa mengungkapkan kepada Saras bahwa
dia sangat benci kepada Sri karena semenjak kejadian itu. Saraspun membalas
dengan tatapan tajam. “kau tidak tau apa yang ada pada dirinya, tadi aku
bertemu dengannya dan kulihat sesosok perempuan yang selalu mengikutinya”. Risa
pun tidak peduli dengan hal itu dan pergi begitu saja.
Jam dinding sudah berdentang dua kali. Setengah malam telah terlewati. Sri
masih duduk tepekur di sudut kamar. Matanya sembab. Ia belum berhasil
memejamkan mata. Ia beringsut ke depan cermin yang menempel di dinding kamar. Ia
masih mengerjakan tugas dari gurunya. Seketika lampu mati ia pun menghidupkan
lilin. Entah kenapa ia menyisir rambutnya pada malam itu. Sisir itu pun jatuh. Saat
dia mengambilnya dia melihat lagi ke cermin tiba tiba ada sesosok perempuan yang
ada belakannya. Dengan kaget ia menjatuhkan lilin di kertasnya. Kertas itu pun
terbakar.
Mentari mulai menampakan dirinya di ufuk timur. Pagi itu di gerbang skolah
Sri menemui Siti dan mengatakan bahwa tugasnya telah terbakar. Siti pun menjawab
bahwa pak guru pasti marah jika dia tidak mengerjakan tugas. Tanpa sengaja
Saras mendengarkan percakapan itu dari kejauhan.
Sang guru pak Agung masuk ke kelas. Sri pun bingun harus bagaimana. Ketika
ia melihat di laci, sudah ada tugas yang harusnya di kumpulkan. Sontak ia
memberikannya pada guru. Namun ia tidak tau tugas itu milik siapa.
Sepulang sekolah Sri melihat Saras
sedang dihukum oleh Pak Agung. Tanpa sengaja ia melihat buku catatan yang di
taruh di dekat Saras. Ia kaget jenis kertas yang ada pada buku Saras sama
dengan yang ia temkan di laci.
Hari berganti Sri memberanikan diri untuk menemui Saras dan menanaka
ntentang kertas tersebut. Ternyata benar itu kertas milik Saras, ia
meletakannya di meja Sri. Sri pun berterimakasih kepadanya dan ingin menjadi
teman dekatnya. Saraspun bersedia.
Suatu hari Sri bertanya kepada Saras apa yang ia alami pada suatu malam.
Saras menjelaskan bahwa ada sosok yang slalu mengikutinya dan dia tidak jahat. Pada
waktu bersamaan Risa dengan wajah merah menghampiri mereka dan mengatakan “kenapa
kau malah berteman dengan orang yang ku benci, Saras? Saras pun menjawab “
Bagiku semuanya adalah teman, apakah itu masalah bagimu?’’
Risa menjawab”ya...!! dan sekarang aku tidak mau berteman dengan mu. Kemudia
Risa pergi begitu saja.
Sore itu juga saat pulang sekolah Rahmat, Sri, Siti, dan Saras pulang
bersama. Di pinggir jalan raya sudah ada Risa yang juga sedang menunggu
angkutan lewat. Saat Sri dan Saras menyebrang jalan raya sebuah truk
dengankecepatan tinggi. Sri hampir saja
tertabarak karena diselamatkan oleh Saras. Namun nyawa Saras tidak tertolong
roda roda itu melindasnya.
Haripun berganti semua warga sekolah berduka atas kejadian itu begitu juga
dengan Risa di tak kuasa memandangi foto Saras. Ketika ia duduk sendirian di
bawah pohon sekolah, Sri menghampirinya dan berkata “jangan menangis, aku mau
menjadi temanmu”. Risa bertanya “kenapa kau baik kepadaku?’’. Sri menjawab “kata
Saras, semua orang adalah teman”. Sejak saat itulah mereka menjadi teman yang
baik dan tidak pernah bertengakar lagi.