Selasa, 17 Februari 2015

parafrasa puisi



 Tuhan Telah Menegurmu


Tuhan telah mengingatkan hambanya dengan sangat halus dan sopan untuk bekerja dan mencari nafkah dengan perut anak-anaknya yang kelaparan. Lewat suara azan Tuhan lagi lagi menegurmu dengan sopan supaya engkau tidak lupa untuk beribadah.

Kali ini Tuhan menegurmu dengan menahan kesabaran, supaya engkau masih punya waktu untuk melakukan apa yang Ia mau lewat gempa bumi ,angin punting beliung, dan banjir.

Dengan semua kejadian dari Tuan tersebut apakah kau denger itu teguran dari Tuhan? Supaya engkau mau bekerja keras dan beribadah.

Cerpen "semua adalah teman"



Semua Adalah Teman
 
Sri seorang siswi  yang baru saja pindah dari kota Bandung ke kota Magelang. Ya memang seorang yang baru saja pindah sekolah apalagi berbeda kota pasti butuh penyesuaian dengan lungkungannya cukup lama.
Suatu hari saat Sri berjalan dengan tergesa gesa di koridor sekolahnya yang baru. Ia menabrak dua orang siswi lain yang belum dia kenal. Sontak salah satu dari mereka langsung mengucap beberapa kata kasar kepadanya. Sri pun langsung meminta maaf kepadanya namun siswi tersebut hanya menyuruhnya untuk pergi. Tak disangka dua orang siswa dan siswi melihat kejadian itu namun mereka juga tidak menghampiri Sri saat kejadian itu terjadi.
Haripun berganti Sri mulai mengikuti pelajaran di kelasnya. Tak disangka ternyata dua orang siswa dan siswi itu sekelas dengan Sri. Mereka pun menghampiri Sri. Seorang dari mereka memperkenalkan diri “Namaku Rahmat,dan dia Siti. siapa namamu?”. Sri pun menjawab. Namaku. Mulai saat itu mereka manjadi teman dekat. Sri pun bertanya siapa yang saat pertama ia di skolah dan ia tabrak. Rahmat pun menjawab bahwa yang di tabarak Sri itu adalah Risa dan Saras.
Mereka berdua selalu bersama , Risa adalah seorang mudah emosi. Sebaliknya Saras adalah orang yang jarang bicara, namun ada yang berbeda darinya sebagian  orang percaya jika Ia bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat, seperti  jin dan sebangsanya. Sore itu sepulang sekolah Sri bertemu dengan Saras di depan kelasnya Saraspun hanya memandangi Sri dengan tatapan tajam. Sri tidak berani membalas tatapan itu ia hanya bisa diam dan pergi begitu saja.
Sore itu juga Risa mengungkapkan kepada Saras bahwa dia sangat benci kepada Sri karena semenjak kejadian itu. Saraspun membalas dengan tatapan tajam. “kau tidak tau apa yang ada pada dirinya, tadi aku bertemu dengannya dan kulihat sesosok perempuan yang selalu mengikutinya”. Risa pun tidak peduli dengan hal itu dan pergi begitu saja.
Jam dinding sudah berdentang dua kali. Setengah malam telah terlewati. Sri masih duduk tepekur di sudut kamar. Matanya sembab. Ia belum berhasil memejamkan mata. Ia beringsut ke depan cermin yang menempel di dinding kamar. Ia masih mengerjakan tugas dari gurunya. Seketika lampu mati ia pun menghidupkan lilin. Entah kenapa ia menyisir rambutnya pada malam itu. Sisir itu pun jatuh. Saat dia mengambilnya dia melihat lagi ke cermin tiba tiba ada sesosok perempuan yang ada belakannya. Dengan kaget ia menjatuhkan lilin di kertasnya. Kertas itu pun terbakar.

Mentari mulai menampakan dirinya di ufuk timur. Pagi itu di gerbang skolah Sri menemui Siti dan mengatakan bahwa tugasnya telah terbakar. Siti pun menjawab bahwa pak guru pasti marah jika dia tidak mengerjakan tugas. Tanpa sengaja Saras mendengarkan percakapan itu dari kejauhan.

Sang guru pak Agung masuk ke kelas. Sri pun bingun harus bagaimana. Ketika ia melihat di laci, sudah ada tugas yang harusnya di kumpulkan. Sontak ia memberikannya pada guru. Namun ia tidak tau tugas itu milik siapa.

Sepulang sekolah  Sri melihat Saras sedang dihukum oleh Pak Agung. Tanpa sengaja ia melihat buku catatan yang di taruh di dekat Saras. Ia kaget jenis kertas yang ada pada buku Saras sama dengan yang ia temkan di laci.

Hari berganti Sri memberanikan diri untuk menemui Saras dan menanaka ntentang kertas tersebut. Ternyata benar itu kertas milik Saras, ia meletakannya di meja Sri. Sri pun berterimakasih kepadanya dan ingin menjadi teman dekatnya. Saraspun bersedia.
Suatu hari Sri bertanya kepada Saras apa yang ia alami pada suatu malam. Saras menjelaskan bahwa ada sosok yang slalu mengikutinya dan dia tidak jahat. Pada waktu bersamaan Risa dengan wajah merah menghampiri mereka dan mengatakan “kenapa kau malah berteman dengan orang yang ku benci, Saras? Saras pun menjawab “ Bagiku semuanya adalah teman, apakah itu masalah bagimu?’’
Risa menjawab”ya...!! dan sekarang aku tidak mau berteman dengan mu. Kemudia Risa pergi begitu saja.

Sore itu juga saat pulang sekolah Rahmat, Sri, Siti, dan Saras pulang bersama. Di pinggir jalan raya sudah ada Risa yang juga sedang menunggu angkutan lewat. Saat Sri dan Saras menyebrang jalan raya sebuah truk dengankecepatan tinggi. Sri  hampir saja tertabarak karena diselamatkan oleh Saras. Namun nyawa Saras tidak tertolong roda roda itu melindasnya.

Haripun berganti semua warga sekolah berduka atas kejadian itu begitu juga dengan Risa di tak kuasa memandangi foto Saras. Ketika ia duduk sendirian di bawah pohon sekolah, Sri menghampirinya dan berkata “jangan menangis, aku mau menjadi temanmu”. Risa bertanya “kenapa kau baik kepadaku?’’. Sri menjawab “kata Saras, semua orang adalah teman”. Sejak saat itulah mereka menjadi teman yang baik dan tidak pernah bertengakar lagi.


Puisi, lirik, tugas saya..





PERCAYALAH



Mungkin bulan pun sudah jenuh

Menanti kau dan aku bertemu

Santai saja jangan terburu buru

Tuhan kan berikan jawaban



            Bila waktu mengerti

            Kan kukejar mentari

            Dan kan kubawa lari

            Tuk kau pujaan hati


Percayalah……

Aku kan kembali

Bawa senyum ini kembali padamu

Jangan kau lelah……

Tuk tetap menanti

Hari yang indah bersama ku di sini     


Lihatlah mentari tersenyum tenang

Menatap indahnya dunia

Tuliskan kata indah pada ku

Jangan lupa katakana cinta


            Bila waktu mengerti

            Kan kukejar mentari

            Dan kan kubawa lari

            Tuk kau pujaan hati


Percayalah……

Aku kan kembali

Bawa senyum ini kembali padamu

Jangan kau lelah……

Tuk tetap menanti

Hari yang indah bersama ku di sini     


Sabtu, 17 Januari 2015


Resensi Novel Pulau Hantu (Ghost Island)


Judul Buku            : Pulau Hantu (Ghost Island)

Penulis                   : Setyawan Barrie

Penerbit                 : Gagas Media

Tahun Terbit          : 2008

Tebal                      : 152 halaman; 
Ukura                     :11,5 x 19 cm

Kategori                : Novel Horor
Ada dua pemuda yang terjebak di pulau yang berhantu dan penuh misteri yaitu Pulau Madara. Dua pemuda tersebut bernama Dante dan Nero. Mereka behasil selamat dari teror Pulau Madara. Yang sebelumnya mereka berdelapan datang ke pulau itu, namun teman-teman yang lainnya itu tewas dengan mengenaskan dan mengerikan.

Saat Dante sedang berusaha memikirkan jalan keluar dari Pulau terkutuk itu, datang rombongan  anak muda. Mereka akan mengadakan pesta untuk perayaan pernikahan teman mereka.

Dante dan Nero berusaha meyakinkan mereka bahwa pulau itu terlalu bahaya. Pulau Madara menyimpan kutuk dan dendam yang akan terpuaskan.

Namu tidak ada yang percaya, hingga satu demi satu kejadian mengerikan mulai menimpa rombongan itu. Dante dan Nero berusaha untuk menyelamatkan rombongan tersebut, namun mereka masih enggan karena dua ratus undangan akan datang ke Pulau itu untuk ikut pesta.

Maka terjadilah tragedi berdarah di Pulau itu. Sementara Dante dan Nero berusaha untuk keluar dari keramaian pesta dan keganasan dari Pulau Hantu tersebut. Cerita selanjutnya dante dan nero masih tanda tanya, “akankah dante dan nero berhasil lolos dari Pulau Madara?”. 
 kelebihan : 
Novel ini bagus karena memiliki alur maju kemudian mundur lalu maju lagi, atau campuran yang menggambarkan keadaan dan situasi di sebuah pulau yang penuh dengan kutuk dan dendam, dimana dante dan nero terjebak di pulau tersebut.
Novel ini memiliki unsur fiktif, karena menceritakan suatu tempat yang tidak jelas adanya, dan memang tidak ada, dapat dikatakan pula dengan mistik. 
 Novel ini memiliki unsur fiktif, karena menceritakan suatu tempat yang tidak jelas adanya, dan memang tidak ada, dapat dikatakan pula dengan mistik.

kelemahan :
Dalam novel ini menggunakan bahasa yang tinggi dan sulit dimengerti dengan mudah, seperti "anak ayam mati lagi" dalam awal bab sebagai ungkapan bahwa akan ada yang meninggal lagi.
Ukuran buku terlalu kecil begitu pula dengan font yang di gunakan


Menurut saya buku ini bagus unuk dibaca karena akan melatih otak untuk memahami bahasa yang digunakan dalam buku tersebut, ceritanya pun sangat menarik. dimana permasalahan tidak pernah ada ujungnya.